Membaca, Menulis, dan Berkarya Bersama di TBM

Ada banyak hal yang terjadi di sebuah Taman Baca Masyarakat (TBM). Anak-anak datang untuk membaca buku, mengikuti kegiatan, mendengarkan cerita, atau sekadar menemukan teman baru. Di sisi lain, ada pengelola dan relawan yang sibuk menyiapkan buku, mendampingi kegiatan, mengambil dokumentasi, menulis laporan, hingga membagikan cerita kegiatan melalui media sosial dan website.


Bagi kami, TBM bukan sekadar tempat menyimpan dan membaca buku. TBM adalah ruang untuk membaca, menulis, belajar, dan berkarya bersama.

Salah satu momen yang selalu kami nantikan adalah ketika kegiatan literasi yang sudah dipersiapkan akhirnya terlaksana. Ada rasa senang melihat anak-anak datang, memilih buku yang mereka sukai, kemudian duduk bersama dan mulai membaca. Sebagian anak membaca sendiri, sementara yang lain lebih menikmati ketika ada yang membacakan cerita untuk mereka.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan ketika kami terlalu bersemangat berkegiatan: mata juga ikut bekerja.

Dari Membaca Buku hingga Menatap Layar

Dalam satu kegiatan literasi, aktivitas yang dilakukan ternyata cukup banyak. Anak-anak membaca buku, sementara pendamping membaca nyaring atau membantu mereka memahami isi bacaan. Setelah itu, kegiatan biasanya dilanjutkan dengan aktivitas menulis, menggambar, membuat karya, atau permainan yang masih berkaitan dengan buku yang dibaca.

Belum selesai sampai di situ.

Ada pula dokumentasi yang harus dibuat. Foto harus dipilih, video diperiksa, informasi kegiatan dicatat, kemudian tulisan disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat. Artinya, setelah cukup lama melihat buku, mata kembali berhadapan dengan layar HP atau laptop.

Pada suatu kesempatan, ketika aktivitas membaca dan menulis berlangsung cukup lama, mulai terasa sesuatu yang sebelumnya sering dianggap sepele. Mata terasa SEpet, kemudian muncul rasa PErih, dan akhirnya mata terasa LElah.

SePeLe.

Tiga gejala yang terdengar sederhana, tetapi cukup mengganggu ketika muncul di tengah aktivitas yang sedang dinikmati.

Membaca menjadi kurang nyaman. Ketika harus melihat tulisan di layar, konsentrasi juga tidak sebaik biasanya. Bahkan untuk melanjutkan menulis dokumentasi kegiatan pun rasanya ingin berhenti sebentar.

Padahal, kegiatan yang sedang berlangsung merupakan salah satu momen yang sudah lama kami nantikan.



Jangan Sampai Masalah Mata Menghentikan Aktivitas Literasi

Pengalaman tersebut membuat kami menyadari bahwa menjaga produktivitas dalam kegiatan literasi tidak cukup hanya dengan menyiapkan buku, alat tulis, kamera, dan perangkat pendukung lainnya.

Kondisi mata juga perlu diperhatikan.

Apalagi aktivitas penggerak literasi saat ini tidak lagi hanya membaca buku. Ada banyak pekerjaan yang membutuhkan layar. Menulis artikel, membuat desain kegiatan, mengedit foto, mengunggah dokumentasi, membaca pesan, hingga melakukan koordinasi melalui WhatsApp semuanya membutuhkan perhatian mata.

Karena itu, ketika mata mulai terasa tidak nyaman, jangan memaksakan diri.

Kami mulai membiasakan beberapa hal sederhana. Saat membaca atau bekerja di depan layar dalam waktu cukup lama, kami berusaha memberikan jeda dan mengalihkan pandangan sejenak. Pencahayaan juga perlu diperhatikan agar aktivitas membaca maupun menulis terasa lebih nyaman.

Selain itu, berkedip secara alami dan tidak terus-menerus menatap layar dalam waktu lama juga menjadi hal kecil yang perlu diperhatikan.

Sebab, terkadang kita begitu fokus menyelesaikan sebuah tulisan atau mengikuti cerita dalam buku sampai lupa bahwa mata juga membutuhkan istirahat.

Menemukan Insto Dry Eyes

Dari pengalaman tersebut, kami kemudian mulai mencari cara lain yang dapat membantu ketika mata terasa kering dan tidak nyaman.

Salah satunya adalah Insto Dry Eyes.

Kami menemukan produk tersebut ketika sedang berbelanja di Indomaret. Setelah membaca informasi pada kemasan dan mengetahui bahwa Insto Dry Eyes ditujukan untuk membantu meredakan gejala mata kering, produk tersebut kemudian menjadi salah satu pilihan yang kami gunakan ketika mengalami ketidaknyamanan akibat mata kering.

Penggunaannya tentu tetap mengikuti petunjuk yang tercantum pada kemasan.

Bagi kami, keberadaan Insto Dry Eyes menjadi pengingat bahwa ketika muncul gejala mata kering, kita tidak perlu menganggapnya sebagai sesuatu yang harus terus ditahan atau diabaikan. Yang penting adalah mengenali kondisi mata dan memberikan perhatian yang dibutuhkan.

Tentu, jika keluhan mata terus berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya tidak hanya mengandalkan penanganan sendiri dan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Karena Literasi Bukan Hanya tentang Buku

Ada satu hal yang kemudian kami pelajari dari pengalaman sederhana tersebut.

Selama ini, ketika berbicara tentang literasi, perhatian kita sering tertuju pada buku. Bagaimana menumbuhkan minat baca anak, menyediakan bahan bacaan yang menarik, membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan, atau mendorong masyarakat untuk menulis dan berkarya.

Semua itu memang penting.

Tetapi di balik kegiatan tersebut ada manusia yang menjalankannya.

Ada anak-anak yang membaca. Ada relawan yang mendampingi. Ada pengelola yang menyiapkan kegiatan. Ada orang-orang yang menulis cerita, membuat dokumentasi, mengedit foto, dan membagikan informasi agar kegiatan literasi bisa menjangkau lebih banyak orang.

Mereka semua membutuhkan kondisi yang baik agar bisa terus berkarya.

Karena itu, menjaga mata juga menjadi bagian kecil dari menjaga keberlangsungan aktivitas literasi.

Buku boleh terus dibuka. Cerita boleh terus ditulis. Karya boleh terus dibuat. Namun, jangan lupa memberikan waktu bagi mata untuk beristirahat.

Sebab membaca, menulis, dan berkarya bersama akan terasa jauh lebih menyenangkan ketika dilakukan dengan tubuh yang tetap nyaman.

Dan ketika mata mulai memberikan tanda berupa SEpet, PErih, atau LElah, jangan buru-buru menganggapnya sepele.

Karena #InstoDryEyes bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu meredakan gejala mata kering. Mari tetap produktif dalam membaca, menulis, dan berkarya sambil menjaga kenyamanan mata. #BebasMataKering, dan yang paling penting, #MataSePeLeJanganSepelein.

Tidak ada komentar

Harap berkomentar dengan sopan dan sesuai topik

Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.