Menjelajah Lamongan Tempo Doeloe dengan Balutan Lurik
Belajar sejarah tidak harus selalu dilakukan melalui buku pelajaran atau mendengarkan penjelasan di dalam kelas. Sejarah akan terasa jauh lebih bermakna ketika dapat dilihat, dirasakan, bahkan dialami secara langsung. Inilah pengalaman berharga yang dirasakan anak-anak TBM Bintang Brilliant saat mengikuti jelajah Lamongan Tempo Doeloe (LTD) 2026 pada Sabtu sore, 27 Juni 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-457 tersebut menghadirkan suasana Lamongan pada masa lampau. Berlokasi di kawasan Lapangan Gajah Mada, masyarakat diajak kembali mengenang kehidupan tempo dulu melalui puluhan stan yang dikelola oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kecamatan, sekolah, hingga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Setiap sudut kawasan dipenuhi dekorasi bernuansa klasik yang membawa pengunjung seolah melintasi lorong waktu.
Agar semakin menyatu dengan suasana tersebut, anak-anak TBM Bintang Brilliant mengenakan pakaian lurik khas Jawa. Corak lurik yang sederhana namun sarat makna menjadi pelengkap perjalanan mereka menyusuri setiap sudut Lamongan Tempo Doeloe. Balutan busana tradisional itu membuat pengalaman belajar terasa berbeda. Tidak sedikit pengunjung yang tersenyum melihat anak-anak dengan pakaian lurik berjalan berkelompok sambil mengamati setiap stan.
Lurik bukan sekadar pakaian tradisional. Di balik motif garis-garis yang sederhana, lurik mengandung filosofi tentang kesederhanaan, kerja keras, kebersamaan, dan kehidupan masyarakat Jawa yang lekat dengan nilai gotong royong. Mengenakannya dalam kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap budaya sekaligus upaya mengenalkan warisan leluhur kepada generasi muda.
Selama menjelajah kawasan Lamongan Tempo Doeloe, anak-anak menemukan banyak hal menarik. Setiap OPD menghadirkan konsep yang berbeda-beda dengan tetap mempertahankan nuansa masa lalu. Ada stan yang memperkenalkan perjalanan pembangunan daerah, ada pula yang menampilkan pelayanan publik dalam kemasan tradisional sehingga mudah dipahami masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak belajar bahwa pemerintah tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi juga memiliki banyak peran dalam kehidupan masyarakat. Berbagai dinas memperlihatkan inovasi pelayanan sekaligus memperkenalkan program-program yang bermanfaat melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan.
Selain stan pemerintahan, kawasan Lamongan Tempo Doeloe juga dipenuhi aneka kuliner tradisional. Berbagai jajanan pasar, makanan khas Lamongan, hingga minuman tradisional menggugah selera para pengunjung. Aroma jajanan yang baru dimasak berpadu dengan dekorasi bambu, lampu temaram, dan musik tradisional menciptakan suasana nostalgia yang begitu kuat.
Bagi anak-anak, pengalaman ini menjadi kesempatan untuk mengenal makanan tradisional yang mungkin belum pernah mereka coba sebelumnya. Di tengah gempuran makanan modern dan cepat saji, mengenalkan kuliner lokal juga merupakan bagian penting dari pendidikan budaya. Mereka belajar bahwa makanan tradisional adalah bagian dari identitas daerah yang patut dilestarikan.
Kunjungan ini juga menjadi ruang belajar yang mendorong rasa ingin tahu. Anak-anak tidak hanya berjalan melihat-lihat, tetapi juga aktif bertanya mengenai benda-benda yang dipamerkan, fungsi berbagai peralatan tempo dulu, hingga cerita di balik dekorasi yang dibuat oleh masing-masing stan. Rasa ingin tahu seperti inilah yang menjadi dasar tumbuhnya budaya literasi.
Di TBM Bintang Brilliant, literasi selalu dimaknai lebih luas daripada sekadar membaca buku. Literasi juga berarti kemampuan membaca lingkungan, memahami sejarah, mengenali budaya, serta belajar dari pengalaman nyata. Ketika anak-anak berinteraksi langsung dengan berbagai bentuk pengetahuan di luar ruang kelas, proses belajar menjadi lebih hidup dan membekas dalam ingatan mereka.
Mengajak anak-anak mengunjungi kegiatan seperti Lamongan Tempo Doeloe merupakan salah satu bentuk pembelajaran kontekstual. Mereka tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga membangun pengalaman yang akan memperkaya cara berpikirnya. Sejarah yang selama ini hanya dibaca dalam buku berubah menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dan diceritakan kembali.
Pemilihan pakaian lurik juga menjadi bagian dari proses pembelajaran tersebut. Anak-anak belajar bahwa mencintai budaya tidak harus melalui hal-hal yang rumit. Mengenakan pakaian tradisional pada momentum yang tepat merupakan bentuk sederhana untuk menunjukkan rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri. Pengalaman ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa budaya akan tetap hidup apabila diwariskan dan dipraktikkan oleh generasi muda.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa ruang publik dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Ketika pemerintah menghadirkan kegiatan yang menggabungkan edukasi, budaya, hiburan, pelayanan publik, dan promosi produk lokal dalam satu kawasan, masyarakat memperoleh manfaat yang jauh lebih luas. Anak-anak mendapatkan pengalaman belajar, orang tua memperoleh hiburan, pelaku UMKM mendapatkan kesempatan mempromosikan produknya, sementara pemerintah dapat lebih dekat dengan masyarakat.






Tidak ada komentar
Harap berkomentar dengan sopan dan sesuai topik